Out of stock

Balada Si Burung Merak: Puisi-Puisi Lengkap W.S. Rendra

W.S. RENDRA (b. 1935 – d. 2009) adalah penyair, dramawan, pemeran dan sutradara teater berkebangsaan Indonesia.

Diselenggara oleh MOHAMAD SALEEH RAHAMAD

ITBM (Cetakan Pertama, 2016)
575 halaman

RM45.00

Out of stock

ISBN: 9789674603670 Product ID: 26995 Category: Sub-subjects: , ,

Balada Si Burung Merak: Puisi-Puisi Lengkap W. S. Rendra mengumpulkah sejumlah 286 buah puisi, merangkumi semua puisi yang pernah diterbitkan menerusi 13 antologi puisi, iaitu Balada Orang-orang Tercinta (1957), Empat Kumpulan Sajak (1961), Blues untuk Bonnie (1971), Sajak-sajak Sepatu Tua (1972), Potret Pembangunan dalam Puisi (1980), Nyanyian Orang Urakan (1985), Disebabkan oleh Angin (1993), Orang-orang Rangkasbitung (1993), Mencari Bapa (1997), Perjalanan Bu Aminah (1997), Doa untuk Anak Cucu (2012), Rendra: Sajak-sajak Cinta (2015), dan Anuning Ning (Sajak yang tidak pernah dibukukan dan pertama kali dimuatkan dalam akhbar KOMPAS 1975).

Penyusunan puisi dalam Balada Si Burung Merak dibuat menurut kandungan setiap buku puisinya bagi tujuan memudahkan pembaca mengesan tarikh penciptaannya walaupun banyak puisinya tidak diberi catatan tarikh penulisan atau kredo. Bagi pengkaji sastera, pentarikhan karya sangat penting kerana itu akan memandu mereka memahami aspek kontekstual, apatah lagi W.S. Rendra merupakan penganut Katolik sebelum menerima Islam sebagai agama pegangannya pada tahun 1970. Oleh hal yang demikian, nuansa Katolik yang terdapat dalam beberapa puisinya perlu difahami dari sudut kontekstual seperti yang terpapar dalam puisi, “Ya, Bapa”, “Loceng-loceng Berkelenengan”, “Gereja St. Antonius, Solo”, “Amsal Sebuah Perjalanan ke Golgotha”, “Surat kepada Bonda: Tentang Calon Menantunya”, dan “Balada Penyaliban”. Dengan memahami riwayat hidup W.S. Rendra, pembaca yang baru-baru mengenali beliau akan terselamat daripada membuat tafsiran liar.

Dalam puisi awalnya, sesuai dengan gelora anak muda, W.S. Rendra sangat romantis dan mahir menghanyutkan perasaan kekasih melalui puisi cintanya yang dihasilkan dalam tahun 50-an seperti “Surat Cinta”, “Serenada Biru”, “Serenada Hijau”, “Episod”, “Taubat”, dan “Baju”. Terasa betapa dalam intuisi Rendra melihat alam untuk diserasikan dengan kecintaan terhadap kekasih seperti katanya (dalam puisi “Taubat”): “Tuhan / Aku telah bertaubat / Aku merasakan apakah neraka itu. / Sebab kelmarin / Pacarku menangis / Di hadapanku.” Demikian juga kedalaman sentuhannya melalui puisi “Baju”: “Amat sayang mencuci bajuku / kerana telah melekat / air mata kekasihku.” Pendek sahaja puisi ini tetapi mampu memberikan makna yang teguh tentang perasaan cintanya. Dalam puisi “Ayam Jantan”, W.S. Rendra terlalu bermain-main dengan perasaan apabila menulis begini: “Kekasihku sangat payah / setelah bersamaku menyusuri kota. / Sekarang tidur nyenyak melepas lelah / dalam bahagia dan mimpi. / Sebab itu, / wahai ayam jantan, / janganlah berkokok terlalu pagi!”.

Bingkisan
W.S. Rendra: Penyair dengan Hukum Kewajaran

1954-1963
Sajak Bunga Gugur
Membisiki Telinga Sendiri
Litano Domba Kudus
Taubat
Balada Penyaliban
Balada Gadisnya Jamil, Si Jagoan
Balada Kasan dan Patima
Balada Sumilah
Balada Penantian
Balada Anita
Balada Lelaki yang Luka
Balada Petualang
Balada Lelaki-lelaki Tanah Kapur
Balada Terbunuhnya Atmo Karpo
Balada Ibu yang Dibunuh
Gerila
Tahanan
Koyan yang Malang
Tangis
Anak yang Angkuh
Ada Telegram Tiba Senja
Perempuan Sial
Di Meja Makan
Permintaan
Rambut
Kangen
Baju
Papaya
Sepeda
Rok Hijau
Kami Berdua
Kegemarannya
Temperamen
Pahatan
Kepada Awan Lewat
Taubat
Sepeda Kekasih
Dua Burung
Telah Satu
Optimisme
Pantun
Ayam Jantan
Janganlah Jauh
Kekasih
Angin Jahat
Surat Cinta
Serenada Hijau
Serenada Biru
Serenada Violet
Serenada Putih
Serenada Kelabu
Serenada Merah Padam
Serenada Hitam
Di Bawah Bulan
Episod
Surat kepada Bonda: Tentang Calon Menantunya
Undangan
Malaikat di Gereja St. Josef
Nyanyian Para Malaikat
Kakawin Kawin
Wajah Dunia yang Pertama
Ranjang Bulan Ranjang Pengantin
Nina Bobok bagi Pengantin
Serenada Merjan

Nyanyian Pengantin
Kandungan
Ciluwung
Ciliwung yang Manis
Bulan Kota Jakarta
Kalangan Ronggeng
Nyanyi Bonda yang Manis
Perbuatan Serong
Pertemuan di Pinggir Kali
Lelaki Sendirian
Lelaki-lelaki yang Lewat
Nyanyi Zubo
Pisau di Jalan
Penjaja
Gugur
Trompet
Lagu Malam
Malaikat-malaikat Kecil
Bayi di Dasar Kali
Ia Bernyanyi dalam Hujan
Dengan Kasih Sayang
Nyanyian Perempuan di Kali
Aminah
Kami Pergi Malam-malam
Perawan Tua
Orang Tua dan Pemain Gitar
Nenek Kebayan
Nenek yang Tersia Bersunyi Diri
Rumah Kelabu
Kenangan dan Kesepian
Ho Liang Telah Pergi
Mega Putih
Anggur Darah
Penunggu Gunung Berapi
Hari Hujan
Tingkat Lebih
Petualang
Malam Ini adalah Kulit Merut Nenek Tua
Pelarian
Sia-sia
Justeru pada Akhir Tahun
Berpalinglah Kiranya
Kali Hitam
Batu Hitam
Mata Hitam
Burung Hitam
Lagu Duka
Lagu Sangsi
Lagu Angin
Lagu Ibu
Lagu Serdadu
Stanza
Tidurlah Intan
Dongeng Pahlawan
Ibunda
Kangen
Bumi Hangus
Ia Telah Pergi
Waktu
Tanpa Garam
Setelah Pengakuan Dosa
Perempuan yang Menunggu
Spada
Malam Jahat
Terpisah
Rumpun Alang-alang
Mata Anjing
Burung Terbakar
Tamu
Remang-remang
Tak Bisa Kulupakan
Sebuah Dunia yang Marah

1964-1973
Kesaksian Tahun 1967
Surat Seorang Isteri
Kupanggili Namamu
Kepada MG
Nyanyian Duniawi
Nyanyian Suto untuk Fatima
Nyanyian Fatima untuk Suto
Pesan Pencopet pada Pacarnya
Pemandangan Senjakala
Bersatulah Pelacur-pelacur Kota Jakarta
Nyanyian Angsa
Khutbah
Blues untuk Bonnie
Rick dari Corona
Disebabkan oleh Angin (Priangan)
Disebabkan oleh Angin (Vasco da Gama)
Kupanggili Kamu, Kekasihku!
Wanitaku! Wanitaku!
Hak Oposisi
Sajak Seorang Tua untuk Isterinya
Menjaga Kehidupan
Amsal Sebuah Perjalanan ke Golgotha
Amsal Seorang Santu
Mazmur Pagi
Mazmur Mawar
Gereja St. Antonius, Solo
Loceng-loceng Berkelenengan
Datanglah, Ya Allah
Doa Malam
Doa Orang Lapar
Doa Seorang Serdadu Sebelum Berperang
Ya, Bapa
Lautan
A Landscape for Dear Victor
Gereja Ostankino, Moskwa
Sretenski Boulevard
Sebuah Restoran, Moskwa
Sungai Moskwa
Sanatorium Chakhalinagara, Moskwa
Moranbong, Pyongyang
Hotel Internasional, Pyongyang
Mancuria
Hotel Aichun, Kanton
Hong Kong
Jalan Ungaran 8, Yogya
Pasar Malam Sriwedari, Solo
Rumah Pak Karto
Kebun Belakang Rumah Tuan Suryo
Jalan Bogor-Jasinga
Sungai Musi
Sawojajar 5, Yogya
Jalan Sagan 9, Yogya
Hutan Bogor
Rumah Andreas
Rumah Nyonya Abraham
Sajak Burung-burung Kondor
Kesaksian tentang Mastodon-mastodon
Balik Kamu Balik

1974-1983
Mengolah Kesedaran
Mengolah Teratai
Mengolah Gerak Nurani
Laku adalah Kenyataan

Mengolah Nafas, Menghayati Doa
Doa Lingkaran Kosong
Sajak Gadis dan Majikan
Sajak Potret Keluarga
Mencari Bapa
Rakyat adalah Sumber Ilmu
Seonggok Jagung
Sajak Matahari
Nyai Dasimah
Sajak Joki Tobing untuk Widuri
Sajak Widuri untuk Joki Tobing
Sajak Kenalan Lamamu
Sajak Tangan Sajak S.L.A.
Sajak Anak Muda
Sajak Sebotol Bir
Sajak Pulau Bali
Sajak Sebatang Lisong
Lagu Seorang Gerila
Sajak Peperangan Abimanyu
Sajak Ibunda
Bukannya di Madrid
Sajak Seorang Tua di Bawah Pohon
Sajak Pertemuan Mahasiswa
Sajak Mata-mata
Orang-orang Miskin
Hai, Kamu!
Nota Bene: Aku Kangen
Aku Tulis Pamplet Ini
Pamplet Cinta
Sajak Bulan Purnama
Balada Seorang Remaja
Prasasti untuk Patung Diponegoro
Rakyat adalah Sumber Kedaulatan
Nyanyian Orang Urakan
Kembali
Nyanyian Preman
Sajak Malam
Kelelawar
Rajawali
Bah
Sandal
Syair Orang Frustasi
Pantun Keuletan Hidup
Pantun Keringat
Ketika Udara Bising
Gita Durman
Megatruh
Gumambku, Ya Allah
Doa di Jakarta

1984-1993
Paman Doblang
Sajak Seorang Tua tentang Bandung Lautan Api
Sajak Tahun Baru 1990
Demi Orang-orang Rangkasbitung
Doa Seorang Pemuda Rangkasbitung di Rotterdam
Kenapa Kau Taruh….
Orang Biasa
Tokek dan Adipati Rangkasbitung
Nyanyian Saijah untuk Adinda
Nyanyian Adinda untuk Saijah
Kesaksian Bapak Saijah
Februari 1991
Sajak Cinta Ditulis pada Usia 57
Doa untuk Anak Cucu
Hai, Ma!
Doa untuk Bosnia
Perjalanan Bu Aminah

1994-2009
Kasbon
Sajak Orang Kepanasan
Sajak Bulan Mei 1998 di Indonesia
Ibu di Atas Debu
Pertanyaan Penting
Syair Mata Bayi
Tentang Mata Pula
Politisi itu adalah
Hey Remco
Kesaksian Akhir Abad
Inilah Saatnya
Sagu Ambon
Doa
Barangkali Kerana Bulan
Jangan Takut, Ibu!
Pertemuan Malam
Perempuan yang Tergusur
Di Mana Kamu, De’Na!
Maskumambang
Setelah Rambutmu Tergerai
Perempuan yang Cemburu
Tuhan, Aku Cinta pada-Mu

Weight 0.899 kg
Dimensions 22.8 × 15.3 × 14.3 cm
Author(s)

,

Edition

Language

,

Publisher

Year Published

Reviews

There are no reviews yet.

Be the first to review “Balada Si Burung Merak: Puisi-Puisi Lengkap W.S. Rendra”

Your email address will not be published. Required fields are marked *