Khazanah Intelektual Islam

NURCHOLISH MADJID (b. 1939 – d. 2005) atau lebih dikenali dengan panggilan Cak Nur, adalah seorang pemikir Islam, cendekiawan, dan budayawan Indonesia. Pada masa mudanya sebagai aktivis dan kemudiannya dilantik sebagai Ketua Umum Himpunan Mahasiswa Islam (HMI). Beliau menjadi satu-satunya tokoh yang pernah menjabat sebagai ketua Umum HMI selama dua penggal. Ide dan gagasannya tentang sekularisasi dan pluralisme pernah menimbulkan kontroversi dan mendapat banyak perhatian dari berbagai kalangan masyarakat. Nurcholish pernah menjabat sebagai Wakil Ketua Dewan Penasihat Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia, dan sebagai Rektor Universitas Paramadina, sehingga beliau meninggal dunia pada tahun 2005.

Ikraq (Cetakan edisi baru, 2019)
333 halaman

RM38.00

In stock

Khazanah Intelektual Islam berisi antologi pemikiran para pemikir Muslim dari zaman klasik hingga zaman moden, merangkumi 10 tokoh bermula dari al-Kindī, Al-Ashʿarī, al-Fārābī, Ibn Sīnā, al-Ghazālī, Ibn Rušd, Ibn Taymiyyah, Ibn Khaldūn, al-Afghānī, sehinggalah ke Muḥammad ‘Abduh. Meskipun buku ini ‘hanya’ berisi antologi pemikiran dari tokoh-tokoh besar tersebut, Cak Nur menuliskan sendiri sari-sari pemikirannya dalam Mukaddimah yang cukup panjang, sekitar 80 halaman. Cak Nur memaparkan pemikirannya bahawa sejarah perkembangan Islam tidak mungkin lepas dari ide-ide inovatif dan progresif para tokoh intelektual di zamannya.

Kesemua tokoh tajdid (pembaharuan) tersebut telah memberi sumbangan yang besar dalam membentuk dan menyelamatkan peradaban Islam, sejak awal Islam ditinggal wafat oleh Nabi Muhammad SAW hingga sekarang. Cak Nur misalnya menyebut nama Umar bin Khattab sebagai generasi awal pembaharu Islam.

Bagi Cak Nur, khalifah kedua ini adalah tokoh progresif yang berjasa besar dalam menentukan sejarah Islam. Salah satu contoh tindakan Umar yang progresif dan sepintas seperti bertentangan atau tidak sejalan dengan al-Qurʼān dan Sunnah adalah kebijakannya untuk tidak membagikan tanah-tanah pertanian di Syria dan Iraq yang saat itu baru ditaklukkan kepada tentera Muslim. Daripada memberikannya kepada para tentera Muslim yang memenangi peperangan tersebut, Umar malah membahagikannya kepada para petani kecil setempat sekalipun mereka belum memeluk Islam. Kebijakan ini menuai protes keras, salah satunya dari Bilal, mu’adzin kesayangan Nabi, yang menuduh Umar telah menyimpang. Umar berani mengambil risiko dan berpolemik dengan para sahabatnya sendiri, kerana bagi Umar, beriman kepada al-Qurʼān dan Sunnah tidak cukup dengan teks, tetapi harus mampu menangkap pesan tersirat teks tersebut.

Cak Nur turut menyemarakkan seruan kepada mengembalikan budaya rasional dan kecintaan pada ilmu pengetahuan di kalangan umat Islam. Budaya ini makin hari seperti semakin hilang, padahal akal dan ilmu pengetahuan adalah kunci yang pernah membesarkan peradaban Islam. Kita, misalnya, pernah mengenal istilah mu’tazilah atau paham yang sangat mendorong penggunaan rasional atau akal dalam berbagai aspek kehidupan. Banyak orang yang salah paham bahwa mu’tazilah adalah paham yang hanya mementingkan akal dan mengabaikan al-Qurʼān dan Sunnah. Bagi Cak Nur, meski beralasan untuk menilai kaum mu’tazilah sebagai kaum rasional, namun sebenarnya faham mu’tazilah pada mulanya digerakkan oleh keinginan menempuh hidup soleh. Bahkan ada yang berpendapat bahwa nama mu’tazilah sendiri diambil dari kata ‘uzlah yang bererti ‘nyepi’ guna menopang kehidupan yang soleh tersebut.

Munculnya gerakan mu’tazilah telah memberikan sumbangan penting bagi intelektualisme Islam, salah satunya berkat mereka, peradaban Islam mulai mengenal ilmu pengetahuan terutama dari alam pikiran Yunani (hellenisme). Gelombang pertama masuknya hellenisme ini berlangsung dari tahun 750 hingga 950 Masehi. Pada masa ini, banyak sekali pemikiran-pemikiran Yunani yang diterjemahkan ke dalam Bahasa Arab dan menjadi rejukan utama di dunia Islam saat itu. Salah satu filsuf Yunani yang paling menarik dan dianggap sebagai al-mu’allim al-awwal (guru pertama) di dunia Islam adalah Aristotle. Dari dia, orang-orang Islam mengambil metode berfikir sistematis dan rasional, iaitu al-Mantiq.

Pesan penting dari Khazanah Intelektual Islam adalah bahawasanya egoisme atau konservatisme intelektual, sebenarnya tidak memiliki tempat dalam sejarah peradaban Islam. Tidak ada peradaban yang dapat tumbuh menjulang tanpa ditopang peradaban lainnya. Peradaban yang besar pasti pernah ‘berhutang’ pada peradaban lainnya. Peradaban Islam klasik pernah berhutang pada peradaban Yunani, begitu pun dengan peradaban Eropah saat ini, pernah berhutang dan mengambil inspirasi dari peradaban Islam di masa klasik.

Atas kesedaran betapa pentingnya memahami pertalian antara kekuatan ummat dan tradisi keilmuannya, maka Nurcholish Madjid, seorang tokoh intelektual Islam Indonesia telah tampil melahirkan Khazanah Intelektual Islam. Perbahasannya tentang beberapa peringkat peradaban manusia, dan kenapa pada hari ini ummat Islam belum berjaya mengatasi peradaban moden, merupakan suatu ketukan di hati ummat yang harus dibincang di semua peringkat.

New Product Tab

Here's your new product tab.

Weight 0.502 kg
Dimensions 23 × 15 × 1.8 cm
Edition

Format

ISBN

9789670311234

Language

Publisher

Year Published

Reviews

There are no reviews yet.

Be the first to review “Khazanah Intelektual Islam”

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.