Puisi Putih Sang Kekasih

SITI ZAINON ISMAIL (1949 — ) merupakan seorang pengarang, pengkaji seni budaya warisan Melayu, seniman, penyair dan pelukis Malaysia. Beliau adalah penerima Anugerah Sastera Negara 2019.

Penerbit UKM (Cetakan kedua, 2016)
108 halaman, termasuk Indeks

RM25.00

Only 1 left in stock

Product ID: 11924 Subjects: , Sub-subjects: ,

Cetakan kedua Kumpulan Puisi Putih Sang Kekasih mengekalkan sajak-sajak Siti Zainon Ismail terbitan sekitar tahun 1978-1980 dengan tambahan lakaran. Ini merupakan buku kedua setelah Nyanyian Malam (DBP, 1976). Judul buku ini juga masih mengekalkan semangat kasih sayang yang murni sebagai ‘puisi putih’ bercitra ’embun dan kabus’ sebagai pemberian Tuhan. Sebagai penyair muda yang mendapat pendidikan seni lukis secara rasmi, memang pemerian karya ini banyak dipengaruhi unsur-unsur seni lukis.

Melihat alam saja rasa ingin melakar dan memberi wama. Hingga tercipta metafora matahari sebagai ‘bola merah’ hingga manusia yang mendiamkan diri sebut ‘kelabu’. Seperti dalam gaya melukis dengan garis ekspresif kerap kali menghilangkan bentuk nyata, hingga akhir tahun 1973, unsur lukisan surealis begitu ketara di celah gerak tari yang dibimbing oleh Pak Bagong Kusdihardjo, ‘kaulah yang memasang lilin-lilin / kemudian memadamnya kembali / sambil bersorak terlalu riuh / di ruang gelap / kitapun melukis suasana / di lantai semu / di dinding bisu / wujudlah arca rindu yang terlalu letih.’

Sekembalinya ke Tanah Air, bertugas sebagai Jurulatih Seni di Kementerian Kebudayaan Belia dan Sukan (1974-1976), seterusnya menyambung kuliah di UKM. Kerja penyelidikan Kesenian Tradisi memberinya semangat yang lebih memberangsangkan. Data-data penyelidikan yang dilakukan tentang kesenian rakyat memberinya idea baharu, untuk menggali nilai warisan. Lahirlah judul seperti “Kampung Kepala Bendang” pusat tukang menghasilkan labu Sayong hingga dicatat ‘hidup masih diwariskan / menggali tanah liat di kaki bukit / membentuk labu dan membakarnya di api sekam.’

Seterusnya rasa kemanusiaannya makin ketara dalam tajuk-tajuk selain “Romansa di Gunung” seperti “Sri Trolak” (buat keluarga peneroka) dengan catatan “sebenamyalah/terlalu berat buat menakluk kekuasaan/kecuali harapan/berbekalkan azam/pohon pun kita suburkan lagi/lembah dan bukit seminya merimbun.” Sesungguhnya kerja keras dan usaha itulah yang membenihkan kejayaan FELDA. Kekerasan hidup di beberapa tempat yang disinggahi telah memberi idea garapan sajak antaranya “Di Kota ini” yang dihasilkan ketika datang ke Filipina.

Kekerasan hidup anak jalanan yang keras, hanya untuk meneruskan kehidupan keluarga, ‘terhidulah bau rambutmu / suara nyaring runtuhan batu / wap air dan gunung api / semalam / seorang semir sepatu mengetuk pintuku / anak-anak menjual kacang sempit menjelir lidah / bagai desa jeepney merah’

Tetapi kekerasan hidup tetap memberi semangat anak jalanan hidup harus diteruskan.

Puisi-puisi dalam Kumpulan Puisi Putih Sang Kekasih memang menjaring suara anak muda yang kerap digoda gundah, hidup belum tentu arah ke mana hujungnya, tetapi tetap percaya hati wajar disemai dengan kasih sayang menerusi ilmu. Sastera dan seni lainnya seperti melukis telah memberi kekuatan dan kerap bertanya ‘cahaya bintangkah itu / yang menyemarakkan malam/yang tidak melelahkan perjalanan.’

Siti Zainon Ismail adalah anak kelahiran Gombak, Kuala Lumpur, pada 18 Disember 1949. Sejak kecil didengarnya alunan Qasidah ayah sambil melakar abjad Jawi. Inilah awalnya dia menyenangi puisi alam, hingga melanjut pelajaran di Sekolah Aminuddin Baki. Ketika belajar di Indonesia peluang mendekati sajak lebih meyakinkan bila tinggal berjiran dan mengintai latihan teater WS Rendra di Yogyakarta hingga terus menulis sambil mengikuti kuliah Seni Rupa ASRI. Minat kepada sajak makin bercambah bila menyambung kuliah Sarjana UKM pada tahun 1980 hingga ke peringkat Ph.D Universiti Malaya pada tahun 1992.

Prakata Edisi Kedua

puisi putih sang kekasih
puisi putih Kekasih
surat rindu kepada Kekasih
kabus di bukit itu, lukisan pun terbentanglah
perjalanan di bukit senja
bola merah, laut senja, ombak pun berhenti
kita yang diam kini
sedikit gerak dan ucapan
selamat pagi
satu penantian
anugerah
di pura klungkung
antara celahan gerak
kesederhanaan
doa pelabuhan akhir (pada sebuah kg. puah kami)

melodi jalanan, melodi seniman
di rumah rakit sungai kelantan
kipas angin
Pendaki (pada belantara musim rontok)
pemecah batu gunung
tanjung pasir hitam
senja di pelabuhan
pandan laut
jurubatu di pagsanjan
kafe di jalan arquiza
lubuk simpon
kampung kepala bendang
di tiga pelabuhan
di kafetaria komsis a
perbualan dengan tapa di pijar siang
awan larat
jurusilat
pak mulung
dentingan saron pak mat
seri trolak (buat keluarga peneroka)

lagu dewi
cinta
akhirnya kita berhenti di kota ini
sesekali
waktu tidak mengizinkan kita bicara (kepada b.)
aku bukan lagi pemilih
catatan ketiga
jawapan atas ucap selamat
wajah thelma
selepas hujan
titik yang hilang
lagu diam (buat zoy)
siti melorinda
kepada perempuan
lagu kecil kepada monik
usia
nyanyi mahoni i (buat wati)
istana kolam (buat mak nang)
keperempuananku

puisi putih sang kekasih
dan sejak itu kita tidak bakal bertemu (kepada abe)
taman-taman yang hilang
pentas
dua cerita senja
di kota ini
dongeng puteri bungsu
monolog putih sang penyu
kesedihan
nyanyi mahoni ii (buat yen)

Indeks

Weight0.169 kg
Dimensions22.7 × 15 × 0.5 cm
Author(s)

Format

Language

Publisher

Year Published

Reviews

There are no reviews yet

Only logged in customers who have purchased this product may leave a review.